July 2026

Marketing Insigth

Daily Marketing Insight #002 – Perhatian Yang Diperebutkan

Perhatian Yang Diperebutkan Dunia tidak kekurangan produk. Dunia tidak kekurangan jasa. Yang mulai langka adalah perhatian. Herbert A. Simon pernah berkata, “A wealth of information creates a poverty of attention.” Semakin banyak informasi beredar. Semakin sulit manusia memberikan perhatiannya. Banyak bisnis gagal bukan karena produknya buruk. Tetapi karena tidak pernah berhasil mendapatkan perhatian. Marketing selalu dimulai dari perhatian. Namun perhatian bukan untuk diperebutkan dengan sensasi. Melainkan diperoleh melalui manfaat. Seth Godin mengatakan, “Marketing is no longer about the stuff that you make, but about the stories you tell.” Orang boleh berhenti karena judul. Tetapi mereka akan bertahan karena nilai. Perhatian membuka sebuah percakapan. Kepercayaan melahirkan sebuah hubungan. Dan hubungan melahirkan sebuah transaksi. Jangan terlalu sibuk mencari perhatian. Hingga lupa menjadi layak untuk diperhatikan. “Marketing bukan tentang menjadi yang paling ramai. Marketing adalah menjadi yang paling layak untuk diperhatikan.” Baca Selengkapnya : https://ryanfirmansyah.my.id/insight-meta-ads

Marketing Insigth

Daily Marketing Insight #001

Semua Orang Sedang Menjual “The aim of marketing is to know and understand the customer so well the product or service fits him and sells itself.”— Peter Drucker Banyak orang… berpikir… marketing… hanya milik pebisnis. Hanya milik… sales… advertiser… atau content creator. Padahal… sejak bangun tidur… setiap orang… sedang melakukan marketing. Seorang anak… membujuk orang tuanya… agar diizinkan pergi bersama teman. Ia sedang menjual… sebuah alasan. Seorang guru… berusaha membuat muridnya mencintai pelajaran. Ia sedang menjual… makna dari ilmu. Seorang pemimpin… meyakinkan timnya… untuk tetap bertahan… di tengah tantangan. Ia sedang menjual… harapan. Seorang pelamar kerja… berusaha meyakinkan perusahaan… bahwa dirinya layak dipilih. Ia sedang menjual… nilai dirinya. Bahkan… ketika kita memperkenalkan diri… kepada orang baru… kita sedang membangun… kesan pertama. Dan kesan pertama… adalah bagian dari marketing. Karena… marketing bukan sekadar… menawarkan produk. Marketing… adalah proses… membangun persepsi. Masalahnya… banyak orang… sibuk belajar… cara berbicara. Tetapi lupa belajar… cara mendengar. Padahal… orang tidak membeli… karena presentasi yang panjang. Orang membeli… karena merasa… “Dia mengerti saya.” Sebelum seseorang… percaya pada solusi… ia ingin yakin… bahwa masalahnya benar-benar dipahami. Itulah sebabnya… pertanyaan… sering kali… lebih berharga… daripada jawaban. Semakin dalam… kita memahami manusia… semakin sedikit… kita perlu memaksa. Karena solusi yang tepat… akan terasa… lebih meyakinkan… daripada seribu kata-kata promosi. Marketing yang buruk… berusaha mengejar transaksi. Marketing yang baik… membangun hubungan. Marketing yang hebat… membangun kepercayaan. Dan kepercayaan… tidak lahir… dari satu iklan. Ia tumbuh… dari kejujuran. Dari konsistensi. Dari manfaat… yang terus dirasakan. Teknologi… boleh berubah. Platform… boleh berganti. Algoritma… boleh diperbarui. Tetapi… sifat manusia… tetap sama. Manusia… ingin dipahami. Ingin dihargai. Ingin dibantu… menyelesaikan masalahnya. Karena itu… sebelum belajar… cara menjual… belajarlah… cara memahami manusia. Sebab… produk bisa ditiru. Harga bisa disamai. Fitur bisa disalin. Tetapi… kepercayaan… adalah sesuatu… yang tidak bisa dicuri. “Pada akhirnya… marketing bukan tentang siapa yang paling pandai berbicara. Marketing adalah tentang siapa yang paling mampu memahami manusia.” Baca Selengkapnya : https://ryanfirmansyah.my.id/insight-meta-ads/

Meta Ads

Masih Pakai Interest Targeting di Meta Ads 2026? Ini Faktanya

Dulu, memilih interest seperti Entrepreneur, Bisnis Online, Shopee, atau Digital Marketing dianggap sebagai langkah wajib sebelum menjalankan Meta Ads. Bahkan banyak advertiser menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari kombinasi interest yang “paling tepat”. Namun, di tahun 2026, pendekatan tersebut mulai berubah. Dengan perkembangan AI Meta, Advantage+ Audience, dan kemampuan machine learning yang semakin canggih, muncul pertanyaan yang sering saya temui: Apakah interest targeting masih efektif, atau justru sudah waktunya beralih ke broad audience? Jawabannya tidak sesederhana “ya” atau “tidak”. Pada artikel ini, kita akan membahas faktanya berdasarkan cara kerja Meta Ads saat ini, bukan berdasarkan mitos yang masih banyak beredar. Meta Ads terus mengalami perubahan setiap tahun. Jika beberapa tahun lalu advertiser dituntut menentukan audience secara sangat spesifik, kini Meta justru memberikan keleluasaan kepada algoritma untuk menemukan calon pelanggan yang paling berpotensi melakukan konversi. Perubahan ini membuat banyak strategi lama perlu dievaluasi kembali. Tidak sedikit advertiser yang masih menggunakan pendekatan lama tanpa memahami bahwa cara kerja sistem Meta sudah berbeda. Artikel ini akan membahas: Apa Itu Interest Targeting di Meta Ads? Interest Targeting adalah fitur penargetan di Meta Ads yang memungkinkan pengiklan menampilkan iklan kepada orang-orang berdasarkan minat, aktivitas, atau topik yang dianggap relevan oleh Meta. Sebagai contoh, jika Anda menjual perlengkapan olahraga, Anda dapat menargetkan pengguna yang memiliki ketertarikan pada fitness, gym, lari, atau merek olahraga tertentu. Beberapa tahun lalu, strategi ini menjadi andalan hampir semua advertiser. Bahkan banyak yang menghabiskan waktu berjam-jam mencari kombinasi interest terbaik agar iklan lebih tepat sasaran. Namun, kondisi Meta Ads pada tahun 2026 sudah jauh berbeda dibanding beberapa tahun sebelumnya. Mengapa Cara Kerja Meta Ads Berubah? Meta terus mengembangkan teknologi Artificial Intelligence (AI) dan Machine Learning agar sistemnya mampu menemukan calon pelanggan yang paling berpotensi melakukan tindakan tanpa harus terlalu bergantung pada pengaturan manual dari advertiser. Dengan kata lain, Meta tidak lagi hanya melihat seseorang menyukai halaman tertentu atau mengikuti akun tertentu. Sistem kini menganalisis ribuan sinyal secara bersamaan, seperti: Aktivitas pengguna Meta mempelajari bagaimana seseorang menggunakan Facebook, Instagram, Messenger, hingga Threads. Misalnya: Semua informasi tersebut menjadi sinyal untuk menentukan siapa yang kemungkinan besar akan melakukan konversi. Data Pixel dan Conversion API Jika website Anda sudah memasang Meta Pixel dan Conversion API dengan benar, Meta akan memperoleh data yang jauh lebih berkualitas dibanding hanya mengandalkan interest. Sistem dapat mengenali pola calon pembeli berdasarkan data nyata, bukan sekadar asumsi bahwa seseorang menyukai suatu topik. Semakin banyak data konversi yang terkumpul, semakin baik pula kemampuan AI Meta dalam mencari audiens serupa. Performa Creative Hal yang sering dilupakan banyak advertiser adalah bahwa creative kini menjadi salah satu sinyal terkuat. Meta akan mengamati siapa yang berhenti scrolling, menonton video lebih lama, mengklik iklan, hingga akhirnya melakukan pembelian. Artinya, creative yang menarik dapat membantu algoritma menemukan audiens yang tepat, meskipun Anda menggunakan targeting yang sangat luas. Apakah Interest Targeting Sudah Tidak Berguna? Jawabannya adalah tidak. Interest Targeting masih memiliki fungsi. Namun, perannya tidak lagi sebesar beberapa tahun lalu. Kesalahan terbesar banyak advertiser adalah menganggap bahwa keberhasilan iklan sepenuhnya ditentukan oleh pilihan interest. Padahal saat ini, faktor seperti creative, penawaran (offer), landing page, serta kualitas data konversi sering kali memiliki pengaruh yang jauh lebih besar. Interest kini lebih tepat dianggap sebagai salah satu alat bantu, bukan penentu utama keberhasilan campaign. Kapan Interest Targeting Masih Layak Digunakan? Meskipun AI Meta semakin pintar, ada beberapa kondisi di mana Interest Targeting masih memberikan manfaat. Saat akun masih baru Akun iklan yang benar-benar baru biasanya belum memiliki cukup data konversi. Dalam kondisi seperti ini, interest dapat membantu Meta memperoleh arah awal sebelum algoritma mulai belajar dari data yang masuk. Namun, gunakan interest yang benar-benar relevan. Hindari menumpuk terlalu banyak interest dalam satu ad set karena justru membuat sinyal menjadi kurang jelas. Produk dengan niche yang sangat spesifik Beberapa produk memiliki target pasar yang sangat sempit. Misalnya: Pada kasus seperti ini, interest tertentu masih bisa membantu mempersempit audiens awal. Validasi pasar Interest juga berguna ketika Anda ingin menguji apakah suatu segmen memiliki respons yang lebih baik dibanding segmen lainnya. Sebagai contoh, Anda dapat membandingkan performa audiens yang tertarik pada bisnis online dengan audiens yang tertarik pada investasi. Namun, setelah data mulai terkumpul, keputusan sebaiknya tidak lagi hanya berdasarkan interest, tetapi berdasarkan hasil konversi. Kapan Sebaiknya Menggunakan Broad Audience? Inilah pendekatan yang semakin banyak direkomendasikan oleh praktisi Meta Ads. Broad Audience berarti Anda memberikan ruang yang lebih luas bagi algoritma Meta untuk menemukan calon pelanggan terbaik. Pendekatan ini umumnya efektif jika: Dalam kondisi tersebut, algoritma Meta sering kali mampu menemukan audiens yang bahkan tidak pernah terpikirkan oleh advertiser. Inilah salah satu keunggulan AI dibanding proses targeting manual. Kesalahan yang Masih Sering Dilakukan Advertiser 1. Terlalu Fokus pada Interest Masih banyak advertiser yang menghabiskan waktu berjam-jam mencari interest baru, padahal masalah sebenarnya ada pada creative atau landing page. Jika iklan tidak menarik perhatian atau penawaran kurang jelas, mengganti interest berkali-kali biasanya tidak akan memberikan perubahan yang signifikan. 2. Menumpuk Puluhan Interest Menggabungkan terlalu banyak interest dalam satu ad set sering kali membuat arah optimasi menjadi tidak jelas. Lebih baik menggunakan beberapa interest yang benar-benar relevan daripada puluhan interest yang sebenarnya tidak memiliki hubungan kuat dengan produk. 3. Mengabaikan Data Konversi Meta belajar dari hasil. Jika Pixel tidak menerima data Purchase, Lead, atau konversi lain yang berkualitas, algoritma akan kesulitan melakukan optimasi. Karena itu, kualitas data jauh lebih penting daripada sekadar mencari interest baru setiap minggu. Contoh / Studi Kasus Mari kita lihat contoh sederhana yang sering terjadi di lapangan. Seorang pemilik bisnis fashion wanita menjalankan dua campaign dengan produk, budget, dan objective yang sama. Campaign A Campaign B Metrik Campaign A Campaign B CTR 2,6% 2,9% CPC Rp1.850 Rp1.720 Cost per Purchase Rp124.000 Rp87.000 ROAS 2,8 4,1 Mengapa campaign Broad Audience justru lebih unggul? Karena Pixel sudah memiliki ribuan data pembelian dari campaign sebelumnya. Meta tidak lagi membutuhkan banyak batasan audience untuk menemukan orang yang berpotensi membeli. Sebaliknya, interest yang terlalu sempit justru membatasi ruang gerak algoritma. Pelajaran yang bisa diambil: ketika akun sudah memiliki data yang cukup, memberi kebebasan kepada AI Meta sering kali menghasilkan performa yang lebih baik dibanding mengatur audience secara manual.

Scroll to Top